Al-Anbiya, ayat 95-97

Kemudian mereka (Ya-juj dan Ma-juj) mengarahkan anak panahnya ke langit, lalu melepaskannya dan anak-anak panah mereka kembali ke bumi dalam keadaan berlumuran darah. Mereka berkata, “Kita telah kalahkan penduduk bumi dan penduduk langit.”

Maka Nabi Isa a.s. mendoakan kebinasaan mereka seraya mengatakan dalam doanya, “Ya Allah, tiada kekuatan dan tiada upaya bagi kami untuk menghadapi mereka, maka lindungilah kami dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.” Lalu Allah menimpakan kepada mereka wabah penyakit ulat yang dikenal dengan nama ‘ulat penyakit unta’. Wabah itu menggerogoti tengkuk mereka hingga mereka binasa semuanya. Lalu Allah mengirimkan burung-burung yang membawa bangkai mereka dengan paruh dan cakarnya, kemudian melemparkan mereka ke laut.

Setelah itu Allah mengirimkan hujan yang diberi nama ‘hujan kehidupan’. Dengan hujan itu Allah membersihkan bumi dan menjadikannya mengeluarkan tetumbuhannya kembali, sehingga satu buah delima dapat mengenyangkan seisi rumah. Ketika ditanyakan kepada Ka’b apa yang dimaksud dengan seisi rumah, Ka’b menjawab satu keluarga.

Ka’b melanjutkan kisahnya, bahwa ketika manusia dalam keadaan hidup makmur seperti itu, tiba-tiba terdengarlah suara yang meminta tolong, menyerukan bahwa Zus Suwaiqataini (bangsa yang berbetis panjang) sedang merusak Ka’bah.

Ka’b melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Isa putra Maryam berangkat bersama sejumlah pasukan yang terdiri atas tujuh ratus orang atau antara tujuh ratus sampai delapan ratus orang personel (untuk memerangi Zus Suwaiqataini). Tetapi ketika mereka sampai di tengah perjalanan, Allah mengirimkan angin Yamaniyah yang berbau harum; lalu angin itu mencabut semua roh orang mukmin, sehingga yang tinggal di bumi ini hanyalah orang-orang yang jahatnya saja, mereka hidup bagaikan hewan ternak. Maka saat hari kiamat bila mencapai tahap tersebut sama dengan saat seseorang sedang menunggu kudanya yang akan melahirkan, ia tidak mengetahui jam berapakah kudanya akan melahirkan.

Ka’b mengatakan, “Barang siapa yang mengatakan sesuatu yang lain sesudah ceritaku ini atau sesudah mendapat pengetahuan dariku, maka dia mempertanggungjawabkan perbuatannya.”

Kisah ini merupakan kisah yang paling baik dari Ka’b Al-Ahbar, mengingat ada bukti yang menguatkannya dari hadis-hadis yang sahih.

Di dalam hadis telah disebutkan bahwa Isa putra Maryam melakukan ibadah haji di Baitullah Al-‘Atiq.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، حَدَّثَنَا عِمْرَانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عُتبَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ليُحَجَّنَّ هَذَا الْبَيْتَ، وليُعْتَمَرنّ بَعْدَ خروج يأجوج ومأجوج”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Imran, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Abu Atabah, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya dia (Isa putra Maryam) benar-benar akan melakukan haji di Baitullah dan sesungguhnya dia benar-benar akan berumrah sesudah munculnya Ya-juj dan Ma-juj.

Imam Bukhari mengetengahkan hadis ini secara tunggal.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ}

Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar. (Al-Anbiya: 97)

Yakni hari kiamat. Bilamana telah terjadi huru-hara, keguncangan dan kekacauan tersebut, maka hari kiamat telah dekat. Dan bilamana hari kiamat terjadi, maka orang-orang kafir yang hidup di masa itu berkata, “Ini adalah hari yang sangat sulit.” Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا}

maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Al-Anbiya: 97)

karena kengerian mereka yang sangat saat menyaksikan peristiwa-peristiwa yang besar di hari kiamat itu.

{يَا وَيْلَنَا}

Aduhai, celakalah kami. (Al-Anbiya: 97)

Yaitu mereka berkata, “Aduhai, celakalah kami,”

قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا}

Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini. (Al-Anbiya: 97)

Maksudnya, saat mereka di dunia melalaikan adanya hari kiamat.

{بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ}

bahkan kami adalah orang-orang yang zalim. (Al-Anbiya: 97)

Mereka mengakui kezaliman mereka terhadap dirinya sendiri. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, hal itu tidak dapat menolong mereka

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.