Berdasarkan pengertian ini, berarti makna ayat yang sedang dibahas ialah: Dan apakah yang memberitahukan kepada kalian, hai orang-orang mukmin, perihal orang-orang yang kalian harapkan hal itu bagi mereka karena terdorong oleh keinginan kalian agar mereka beriman, bahwa apabila mukjizat-mukjizat itu datang, mereka mau beriman?
Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz annaha bermakna la alla yang artinya ‘mudah-mudahan’. Ibnu Jarir mengatakan, mereka menyebutkan bahwa memang demikianlah maknanya menurut qiraat Ubay ibnu Ka’b. Menurut Ibnu Jarir, telah disebutkan dari perkataan orang Arab secara sima’i ( idiom ) kalimat berikut: “Pergilah ke pasar, mudah-mudahan engkau membelikan sesuatu (makanan) buat kami.” Lafaz innaka di sini bermakna la ‘allaka, yakni agar engkau membelikan buat kami sesuatu.
Ibnu Jarir mengatakan, menurut suatu pendapat ada yang mengatakan bahwa perkataan Addi Ibnu Zaid Al-Ibadi dalam bait syair berikut termasuk ke dalam bab ini, yaitu:
أَعَاذِلُ مَا يُدْريك أَنَّ مَنيَّتي … إِلَى سَاعَةٍ فِي الْيَوْمِ أَوْ فِي ضُحَى الغَد
Hai orang yang mencela, apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa ajalku hanya sampai sesaat lagi dalam hari ini atau pada pagi hari keesokannya?
Ibnu Jarir memilih pendapat ini dan mengemukakan beberapa syawahid atau bukti yang memperkuat pendapatnya dari syair-syair orang-orang Arab.
****
Firman Allah Swt.:
{وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ}
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya. (Al-An’am: 110)
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa ketika orang-orang musyrik mengingkari Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah, maka hati mereka dijadikan tidak tetap atas sesuatu pun dan menolak setiap perintah.
Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka. (Al-An’am: 110) Yakni Kami halang-halangi antara mereka dan iman. Dan seandainya datang kepada mereka semua bukti (mukjizat), niscaya mereka tidak akan beriman, sebagaimana Kami halang-halangi mereka antara diri mereka dan iman seperti pada permulaannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan Abdur Rahman Ibnu Zaid Ibnu Aslam.
Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Allah Swt. menceritakan perihal apa yang akan dikatakan oleh hamba-hamba-Nya sebelum mereka mengatakannya, dan apa yang akan mereka lakukan sebelum mereka mengerjakannya. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ}
dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu-sebagai yang diberitakan oleh Yang Maha Mengetahui. (Fatir: 14)
أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ
supaya jangan ada orang yang mengatakan, “Amat besar penyesalan atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah. (Az-Zumar: 56)
sampai dengan firman-Nya:
لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (Az-Zumar: 58)
Allah Swt. menceritakan, “Seandainya mereka dikembalikan ke dunia lagi, pastilah mereka tidak akan mengikuti jalan petunjuk (sama dengan keadaan mereka semula),” seperti yang disebutkan oleh firman yang lain, yaitu:
{وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ}
Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (Al-An’am: 28)
Dan dalam surat ini disebutkan:
{وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ}
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya. (Al-An’am: 110)
Dengan kata lain, seandainya mereka dikembalikan ke dunia, niscaya akan dihalang-halangi antara mereka dan jalan hidayah, sebagaimana Kami menghalang-halangi antara mereka dan iman sejak permulaannya ketika mereka masih hidup di dunia.
****
Firman Allah Swt.:
{وَنَذَرُهُمْ}
dan Kami biarkan mereka. (Al-An’am: 110)
Yakni Kami tinggalkan mereka.
{فِي طُغْيَانِهِمْ}
dalam kesesatannya. (Al-An’am: 110)
Menurut Ibnu Abbas dan As-Saddi, makna tugyan dalam ayat ini ialah kekufuran. Sedangkan menurut Abul Aliyah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Qatadah ialah kesesatan.
{يَعْمَهُونَ}
bergelimang. (Al-An’am: 110)
Menurut Al-A’masy artinya bermain-main. Sedangkan menurut Ibnu Abbas. Mujahid. Abul Aliyah, Ar-Rabi, dan Abu Malik serta lain-lainnya adalah bergelimang, yakni mereka bergelimang dalam kekafirannya.
**************************************
Akhir juz 7
***************************************