Al-Ahqaf, ayat 10-14

Adapun golongan ahli sunnah wal jamaah mengatakan tentang semua perbuatan dan ucapan yang tidak terbukti bersumber dari para sahabat berarti hal itu adalah bid’ah. Karena sesungguhnya seandainya hal itu baik, tentulah mereka mendahului kita beriman kepadanya, karena sesungguhnya tiada suatu perkara kebaikan pun yang mereka biarkan melainkan mereka (para sahabat) bersegera mengerjakannya

******

Firman Allah Swt.:

{وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ} أَيْ: بِالْقُرْآنِ {فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ} أَيْ: كَذِبٌ {قَدِيمٌ}

Dan Karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, ‘Ini adalah dusta yang lama.” (Al-Ahqaf. 11)

Yakni apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu adalah dusta yang lama. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa Al-Quran itu dikutip dan orang-orang dahulu. Mereka mendiskreditkan Al-Qur’an dan orang-orang yang beriman kepadanya. Hal inilah yang dinamakan sifat takabur yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. melalui sabdanya yang mengatakan:

“بَطَرُ الْحَقِّ، وغَمْط النَّاسِ”

Menentang perkara yang hak (benar) dan meremehkan orang.

kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

{وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى}

Dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa. (Al-Ahqaf: 12)

Yakni kitab Taurat.

{إِمَامًا وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ} يَعْنِي: الْقُرْآنَ {مُصَدِّقٌ}

sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya. (Al-Ahqaf: 12)

Maksudnya, membenarkan kitab-kitab yang telah mendahuluinya.

{لِسَانًا عَرَبِيًّا}

dalam bahasa Arab. (Al-Ahqaf: 12)

Yakni bahasa yang fasih, terang, dan jelas.

{لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ}

untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ahqaf: 12)

Al-Qur’an itu mengandung peringatan buat orang-orang kafir dan berita gembira buat orang-orang mukmin.

*********

Firman Allah Swt.:

{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا}

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ” Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah. (Al-Anqaf: 13)

Tafsir ayat ini telah dikemukakan dalam tafsir surat Ha Mim Sajdah.

Firman Allah Swt.:

{فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ}

maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. (Al-Ahqaf: 13)

dalam menghadapi masa depan mereka.

{وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}

dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Al-Ahqaf: 13)

terhadap masa lalu mereka.

{أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Ahqaf: 14)

Yakm amal-amal perbuatan yang dahulu telah mereka kerjakan yang menyebabkan mereka memperoleh rahmat Allah yang terlimpahkan kepada mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.