84. SURAT AL-INSYIQAQ

تَفْسِيرُ سُورَةِ الِانْشِقَاقِ

(Terbelah)

Makkiyyah, 23 atau 25 ayat Turun sesudah Surat Al-Infithar

Malik telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Yazid, dari Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah mengimami salat mereka dan membaca Izas Sama-un Syaqqat (surat Al-Insyiqaq). maka dia melakukan sujud dalam bacaannya. Setelah selesai dari salatnya, ia menceritakan kepada orang-orang yang bermakmum kepadanya, bahwa Rasulullah Saw. telah melakukan sujud tilawah dalam surat tersebut. Imam Muslim dan Imam Nasai meriwayatkan hadis ini melalui jalur Malik dengan sanad yang sama.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, dari ayahnya, dari Bakr, dari Abu Rafi’ yang mengatakan bahwa ia pernah salat bersama Abu Hurairah, yaitu salat Isya, lalu Abu Hurairah membaca Izas Sama-un Syaqqat (surat Al-Insyiqaq) dan ia melakukan sujud tilawah. Setelah salat usai, aku bertanya kepadanya mengenai hal itu. Maka ia menjawab, bahwa ia pernah sujud di belakang Abul Qasim Saw. (ketika bermakmum kepada beliau Saw.), maka ia tetap melakukan sujud tilawah manakala membaca surat tersebut, sampai akhir hayatnya. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula dari Musaddad, dari Mu’tamir dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya pula dari Musaddad, dari Yazid ibnu Zurar, dari At-Taimi, dari Bakr, dari Abu Rafi’, lalu disebutkan hal yang sama.

Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai telah mengetengahkannya melalui berbagai jalur dari Sulaiman ibnuTarkhan At-Taimi dengan sanad yang sama. Dan Imam Muslim serta para penulis kitab sunan telah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah; Imam Nasai dalam sanadnya menambahkan Sufyan As-Sauri. keduanya dari Ayyub ibnu Musa, dari Ata ibnu Mina, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa kami melakukan sujud tilawah bersama Rasulullah Saw. ketika membaca Izas Sama-un Syaqqat (surat Al-Insyiqaq) dan Iqra’ Bismi Rabbikal Lazi Khalaq (surat Al-‘Alaq).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2) وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5) يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ (6) فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا (9) وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14) بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا (15)

Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, “Celakalah aku.” Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.

Firman Allah Swt:

{إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ}

Apabila langit terbelah. (Al-Insyiqaq: 1)

Yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.

{وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا}

dan patuh kepada Tuhannya. (Al-Insyiqaq: 2)

Yakni tunduk dan patuh kepada perintah Tuhannya yang memerintahkan kepadanya untuk terbelah. Yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.

{وَحُقَّتْ}

dan sudah semestinya langit itu patuh. (Al-Insyiqaq: 2)

Sudah seharusnya langit patuh kepada perintah-Nya, karena Dia Mahabesar, tidak dapat dicegah dan tidak dapat dihalangi apa yang dikehendaki-Nya, bahkan Dia mengalahkan segala sesuatu, dan segala sesuatu tunduk patuh kepada-Nya. Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

{وَإِذَا الأرْضُ مُدَّتْ}

dan apabila bumi diratakan. (Al-Insyiqaq: 3)

Yakni digelarkan, dihamparkan, dan diluaskan.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا ابْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ، عَنْ مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِذَا كَانَ يومُ الْقِيَامَةِ مَدَّ اللَّهُ الْأَرْضَ مَدَّ الْأَدِيمِ حَتَّى لَا يَكُونَ لِبَشَرٍ مِنَ النَّاسِ إِلَّا مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُدْعَى، وَجِبْرِيلُ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ، وَاللَّهِ مَا رَآهُ قَبْلَهَا، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، إِنَّ هَذَا أَخْبَرَنِي أَنَّكَ أَرْسَلْتَهُ إِلَيَّ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: صَدَقَ. ثُمَّ أُشَفَّعُ فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، عِبَادُكَ عَبَدُوكَ فِي أَطْرَافِ الْأَرْضِ. قَالَ: وَهُوَ الْمَقَامُ الْمَحْمُودُ”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Ali ibnul Husain, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Apabila hari kiamat terjadi, Allah menghamparkan bumi menjadi rata seperti selembar kulit dihamparkan, sehingga tiada tempat lagi bagi seorang manusia kecuali hanya tempat bagi kedua telapakkakinya (karena semua makhluk pada hari itu telah dibangkitkan). Maka aku adalah orang yang mula-mula dipanggil, sedangkan Jibril berada di sebelah kanan Tuhan Yang Maha Pemurah. Demi Allah, aku belum pernah melihat-Nya sebelum itu, dan aku berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya malaikat ini (Jibril) telah memberitakan kepadaku bahwa Engkau telah mengutusnya kepadaku.” Allah Swt. berfirman, “Dia benar.” Kemudian aku memohon syafaat dan aku katakan, “Ya Tuhanku, tolonglah hamba-hamba-Mu yang menyembah-Mu di berbagai penjuru bumi.”

Ali ibnul Husain menjelaskan, bahwa itulah yang dimaksud dengan Al-Maqamul Mahmud (kedudukan yang terpuji).

Firman Allah Swt.

{وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ}

dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. (Al-Insyiqaq: 4)

Bumi mengeluarkan semua mayat yang ada di dalam perutnya sehingga bumi kosong dari mereka; menurut Mujahid, Sa’id, dan Qatadah.

{وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ}

dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. (Al-Insyiqaq: 5)

Penjelasannya sama dengan ayat yang kedua di atas.

Firman Allah Swt.:

{يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا}

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemuinya. (Al-Insyiqaq: 6)

Yaitu sesungguhnya kamu telah berupaya dan beramal untuk menuju Tuhanmu dengan sebenar-benarnya, kemudian sesungguhnya kamu bakal menjumpai balasannya—apakah baik atau buruk— sesuai dengan amal perbuatanmu.

Pengertian ini diperkuat dengan adanya sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Al-Hasan ibnu Abu Ja’far, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“قَالَ جِبْرِيلُ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحَبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيهِ”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.