51. SURAT ADZ-DZARIYAT

{وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ}

dan sesungguhnya (hari) pembalasan itu pasti terjadi. (Adz-Dzariyat: 6)

Yang dimaksud dengan ad-din ialah hari pembalasan, bahwa hari tersebut benar-benar akan terjadi dan pasti terjadinya. Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ}

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan. (Adz-Dzariyat: 7)

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah langit yang mempunyai keindahan, kemegahan, dan kerapian. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Malik, Abu Saleh, As-Saddi, Qatadah, Atiyyah Al-Aufi, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan lain-lainnya.

Ad-Dahhak dan Al-Minhal ibnu Amr serta selain keduanya mengatakan bahwa perihalnya sama dengan bergelombang atau beriaknya air, pasir, dan tanam-tanaman manakala diterpa oleh angin; maka sebagian darinya membentuk alur dengan sebagian yang lain alur demi alur, dan inilah yang dimaksud dengan al-hubuk.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّة، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ أَنَّهُ قَالَ: “إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمُ الْكَذَّابَ الْمُضِلَّ، وَإِنَّ رَأْسَهُ مِنْ وَرَائِهِ حُبُك حُبُك” يَعْنِي بِالْحُبُكِ: الْجُعُودَةَ

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari seorang lelaki sahabat Nabi Saw., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya di belakang kalian akan ada seorang pendusta lagi penyesat, dan sesungguhnya (rambut) kepalanya dari belakang (kelihatan) berombak-ombak. Yakni keriting.

Abu Saleh mengatakan, artinya yang mempunyai ikatan yang erat. Dan menurut Khasif, zatul hubuk artinya yang mempunyai kerapian. Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zatul hubuk adalah yang mempunyai ikatan dengan bintang-bintang.

Qatadah telah meriwayatkan dari Salim ibnu Abul Ja’d, dari Ma’dan ibnu Abu Talhah, dari Amr Al-Bakkali, dari Abdullah ibnu Amr r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi langit yang mempunyai jalan-jalan. (Adz-Dzariyat: 7) Yakni langit yang ketujuh, seakan-akan —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— yang dimaksudkan adalah langit yang padanya terdapat bintang-bintang yang tetap (tidak bergerak), yang menurut kebanyakan ulama ahli falak berada di cakrawala yang kedelapan di atas cakrawala yang ketujuh; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Semua pendapat yang disebutkan di atas merujuk kepada satu hal, yaitu menggambarkan tentang keindahan dan kemegahannya, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa termasuk keindahan langit ialah ketinggiannya, pemandangannya yang transparan, kokoh bangunannya, luas cakrawalanya, lagi kelihatan cantik dalam kemegahannya dihiasi dengan bintang-bintang yang tetap dan yang beredar, serta dihiasi dengan matahari, rembulan, dan bintang-bintang yang bercahaya gemerlapan.

*******************

Firman Allah Swt.:

{إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ}

sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat. (Adz-Dzariyat: 8)

Yaitu sesungguhnya kalian hai orang-orang musyrik yang mendustakan rasul-rasul- benar-benar dalam keadaan berselisih, kacau, tidak rukun, dan tidak bersatu.

Menurut Qatadah, makna ayat ini ialah bahwa sesungguhnya kalian benar-benar berada dalam kekacauan pendapat antara membenarkan dan mendustakan Al-Qur’an.

{يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ}

dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 9)

Yakni sesungguhnya yang termakan hanyalah orang yang memang dirinya ditakdirkan sesat. Mengingat yang dikatakan adalah hal yang batil, dan yang termakan olehnya hanyalah orang yang memang ditakdirkan sesat lagi tidak punya pengertian. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

{فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ إِلا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ}

Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala-nyala. (Ash-Shaffat: 161-163)

Ibnu Abbas r.a. dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 9) Yakni disesatkan darinya orang yang disesatkan.

Mujahid mengatakan: dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 9) Yakni dijauhkan darinya orang yang dijauhkan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa dipalingkan dari Al-Qur’an orang yang mendustakannya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ}

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta. (Al-Zariyat: 10)

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kharras ialah orang yang pendusta. Ungkapan ini merupakan tamsil, sama dengan apa yang terdapat di dalam surat Abasa, yaitu:

{قُتِلَ الإنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ}

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? (‘Abasa: 17)

Al-kharrasun adalah orang-orang yang mengatakan bahwa kami tidak akan dibangkitkan, mereka tidak mempercayai adanya hari berbangkit.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta. (Adz-Dzariyat: 10) Artinya, terkutuklah orang-orang yang ragu-ragu.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mu’az r.a. dalam khotbahnya, bahwa binasalah orang­-orang yang ragu-ragu.

Qatadah mengatakan bahwa kharrasun artinya orang-orang yang lalai dan berprasangka buruk.

*******************

Firman Allah Swt.:

{الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ}

(yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai. (Adz-Dzariyat: 11)

Ibnu Abbas r.a. dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang yang tenggelam dalam kekafiran, keraguan, kelalaian, dan kealpaannya.

{يَسْأَلُونَ أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ}

mereka bertanya, “Bilakah hari pembalasan itu?” (Adz-Dzariyat: 12)

Sesungguhnya mereka menanyakan hal ini hanyalah semata-mata karena ketidakpercayaan mereka dengan adanya hari pembalasan itu. Mereka mendustakannya, mengingkarinya, meragukannya, dan menganggapnya mustahil.

Firman Allah Swt.:

{يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ}

(Hari pembalasan itu ialah) pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Adz-Dzariyat: 13)

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Al-Hasan serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa makna yuftanuna ialah mereka diazab, sebagaimana emas dibakar dalam api (kemasan).

Jamaah lainnya —seperti Mujahid, Ikrimah, Ibrahim An-Nakha’i, Zaid ibnu Aslam, dan Sufyan As-Sauri— mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka dibakar.

{ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ}

(Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah azabmu itu. (Adz-Dzariyat: 14)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah rasakanlah siksaan yang membakar kalian ini. Sedangkan selain Mujahid mengatakan rasakanlah azab ini.

{هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ}

Inilah azab yang dahulu kamu minta supaya disegerakan. (Adz-Dzariyat: 14)

Dikatakan hal ini kepada mereka sebagai kecaman, cemoohan, dan penghinaan terhadap mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.