38. SURAT SHAD

وَلَا تَحِينَ مَنَاصٍ

padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melepaskan diri (Shad: 3)

Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama. Kemudian jumhur “ulama membaca nasab pada lafaz hina, yang arti panjangnya adalah “padahal saat itu bukanlah saat untuk melepaskan diri”.

Di antara mereka ada yang membolehkan nasab berdasarkan dalil syair yang mengatakan:

تَذَكَّر حُب لَيْلَى لاتَ حِينَا … وأَضْحَى الشَّيْبُ قَدْ قَطَع القَرينا

Engkau teringat akan cinta Laila, padahal bukan saatnya untuk bercinta, dan uban (usia tua) telah menjadi pemutus hubungan.

Di antara mereka ada yang membolehkannya dibaca jar berdasarkan dalil syair yang mengatakan:

طَلَبُوا صُلْحَنَا ولاتَ أوانٍ … فأجَبْنَا أن ليس حينُ بقاءِ

Mereka meminta perdamaian dengan kami, padahal sudah bukan masanya lagi perdamaian. Maka kami jawab, bahwa tiada waktu lagi untuk melestarikan perdamaian.

Sebagian ulama mengatakan, “Padahal sudah bukan saatnya bagi penyesalan” (nasi telah menjadi bubur); dengan men-jar-kan lafaz As­ sa’ah. Ahli bahasa mengatakan An-Naus artinya terlambat, dan Al-bus maju. Disebutkan oleh firman-Nya:

{وَلاتَ حِينَ مَنَاصٍ}

padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (Shad: 3)

Yakni waktu itu bukanlah lagi saatnya melarikan diri dari azab.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.