20. SURAT THAHA

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan di dalam kitab Musnad-nya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Harawi, dari Al-Abbas ibnul Fadl. Abu Ya’la bertanya, “Apakah dia adalah Ibnul Fadl Al-Ansari?” Abu Musa Al-Harawi menjawab, “Ya.” Dia meriwayatkan dari Al-Qasim yang mengatakan bahwa ia pernah bersama Rasulullah Saw. dalam perang Tabuk. Ketika kaum muslim yang terlibat dalam perang tabuk itu pulang di hari yang panas sekali, dan kaum muslim berjalan secara berpencar. Perawi saat itu berada di bagian paling depan dari pasukan kaum muslim. Tiba-tiba ada seorang lelaki berpapasan dengan kami, lalu lelaki itu bertanya, “Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?” Teman-temanku meneruskan perjalanannya, sedangkan aku berhenti meladeni lelaki itu. Tiba-tiba Rasulullah Saw. muncul di tengah pasukan kaum muslim dengan mengendarai unta merah seraya menutupi kepalanya dari sengatan panas matahari yang terik. Lalu saya berkata kepada lelaki itu, “Hai kamu yang bertanya, inilah Rasulullah Saw. telah tiba menuju ke arahmu!” Lelaki itu bertanya, “Siapakah dia di antara mereka?” Aku menjawab, “orang yang mengendarai unta merah.” Lelaki itu mendekatinya dan memegang tali kendali untanya. Maka unta yang dikendarai oleh Nabi Saw. berhenti, dan lelaki itu bertanya, “Engkaukah yang bernama Muhammad?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku hendak bertanya kepadamu tentang beberapa perkara yang tiada seorang pun dari kalangan penduduk bumi mengetahuinya kecuali hanya seorang atau dua orang saja.” Rasulullah Saw. bersabda, “Tanyakanlah apa yang kamu kehendaki!” Lelaki itu berkata, “Hai Muhammad, apakah seorang nabi tidur?” Rasulullah Saw. menjawab, “Kedua matanya tidur, tetapi hatinya tidak tidur.” Si lelaki berkata, “Engkau benar.” Kemudian lelaki itu bertanya, “Hai Muhammad, mengapa anak itu mirip ayahnya dan (adakalanya) mirip ibunya?” Rasulullah Saw. menjawab: Air mani lelaki putih lagi kental, sedangkan air mani wanita kuning lagi encer. Maka mana saja di antara kedua air mani itu yang mengalahkan lainnya, anak tersebut akan lebih mirip kepadanya. Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Lalu ia bertanya, “Apa sajakah yang di­ciptakan dari air mani lelaki dan air mani perempuan dalam tubuh anaknya?” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Air mani laki-laki membentuk tulang dan urat-urat serta otot-otot, sedangkan air mani wanita membentuk daging, darah, dan rambut. Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kemudian lelaki itu bertanya, “Hai Muhammad, apakah yang ada di bawah tanah ini?” Rasulullah Saw. menjawab, “Makhluk.” Lelaki itu bertanya, Di bawah mereka itu ada apa?” Rasulullah Saw. menjawab, “Bumi.” Lelaki itu bertanya, “Apakah yang ada di bawah bumi itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Air.” Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah air itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Kegelapan.” Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah kegelapan itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Udara.” Ia bertanya, “Apakah yang ada di bawah udara itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Bumi.” Ia bertanya, “Lalu apakah yang ada di bawah bumi itu?” Rasulullah Saw. menangis dan bersabda, “Hanya sampai di situlah pengetahuan makhluk bila dibanding­kan dengan pengetahuan Pencipta. Hai orang yang bertanya, tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar, saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Hai manusia, tahukah kalian siapakah orang ini?” Mereka menjawab,” Hanya Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.” Rasulullah Saw. bersabda,”Orang ini adalah Jibril a.s.

Hadis berpredikat garib sekali, dan konteksnya sangat aneh, ia hanya diriwayatkan oleh Al-Qasim ibnu Abdur Rahman. Yahya ibnu Mu’in mengatakan tentangnya, bahwa ia adalah orang yang tidak pantas menjadi rawi hadis. Abu Hatim Ar-Razi menilainya daif; sedangkan menurut Ibnu Addi, Al-Qasim ibnu Abdur Rahman adalah perawi yang tidak dikenal.

Menurut kami hadis ini bercampur aduk, sesuatu dimasukkan ke dalam sesuatu yang lain, dan suatu hadis dimasukkan ke dalam hadis lainnya menjadi satu. Dapat dikatakan bahwa perawinya sengaja melakukan pencampuradukan itu atau memasukkan ke dalamnya sesuatu yang lain. Hanya Allah-lah yang lebih mengetahui kebenarannya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى}

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha: 7)

Yakni Al-Qur’an ini diturunkan oleh Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{قُلْ أَنزلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}

Katakanlah, “Al-Qur’an ini diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 6)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha: 7) Yang dimaksud dengan rahasia ialah apa yang disembunyikan oleh anak Adam dalam hatinya, sedangkan yang lebih tersembunyi ialah apa yang tidak diketahui oleh anak Adam, padahal ia yang mengerjakannya. Maka Allah mengetahui kesemuanya itu. Pengetahuan Allah tentang apa yang telah berlalu dari hal ini dan apa yang akan datang meliputi semuanya, dan semua makhluk bagi Allah dalam hal ini sama dengan salah satu dari mereka. Seperti yang disebutkan oleh Firman-Nya dalam ayatyang lain, yaitu:

{مَا خَلْقُكُمْ وَلا بَعْثُكُمْ إِلا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ}

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. (Luqman: 28)

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Thaha: 7) Arti sirr ialah sesuatu yang dibicarakan olehmu dalam dirimu, sedangkan akhfa ialah sesuatu yang belum kamu bicarakan dalam dirimu.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, “Anda mengetahui apa yang Anda rahasiakan hari ini, tetapi Anda tidak akan mengetahui apa yang bakal Anda rahasiakan keesokan harinya. Allah mengetahui apa yang Anda rahasiakan hari ini dan apa yang akan Anda rahasiakan keesokan harinya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Akhfa” bahwa yang dimaksud dengannya ialah bisikan hati. Dan ia serta Sa’id ibnu Jubair mengatakan pula bahwa akhfa artinya sesuatu yang dilakukan oleh manusia tanpa diniatkannya dahulu dalam hatinya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى}

Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai asma-ul husna (nama-nama yang baik). (Thaha: 8)

Yakni Tuhan Yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu. Dialah Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia Yang mempunyai nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi. Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan asma-ul husna ini berikut keterangannya, yaitu dalam tafsir ayat-ayat terakhir dari surat Al-A’raf

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.