105. SURAT AL-FIL

Menurut hemat saya, nama pemegang kendali gajah Abrahah bernama Anis. Al-Hafiz Abu Na’im di dalam kitabnya yang berjudul Dala’ilun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Ibnu Wahb, dari Ibnu Lahi’ah, dari Aqil ibnu Khalid, dari Usman ibnul Mugirah, kisah tentang tentara bergajah ini; tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah datang dari Yaman, melainkan dia hanya mengutus pasukannya yang dipimpin oleh seorang lelaki bernama Syamir ibnu Maqshud, jumlah pasukannya kurang lebih dua puluh ribu orang personil. Disebutkan pula bahwa burung ababil datang menyerang mereka di malam hari, dan pada pagi harinya mereka semuanya tewas. Konteks kisah ini aneh sekali, sekalipun Abu Na’im telah menguatkannya di atas riwayat yang lain.

Menurut riwayat yang benar, Abrahah Al-Asyram Al-Habsyi datang ke Mekah sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks riwayat yang lainnya dan juga yang disebutkan dalam syair orang-orang dahulu. Hal yang sama telah disebutkan dalam riwayat yang bersumberkan dari Ibnu Lahi’ah, dari Al-Aswad, dari Urwah, bahwa Abrahah mengirimkan Al-Aswad ibnu Maqsud bersama sejumlah besar pasukannya di sertai dengan gajah, tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah sendiri ikut dalam misi tersebut. Menurut pendapat yang benar, Abrahah pun memang ikut datang dalam misi itu, barangkali Ibnu Maqsud berada di barisan pasukan yang terdepan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenarannya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan sebagian dari syair-syair yang dikatakan oleh orang-orang Arab berkenaan dengan kisah tentara bergajah ini; di antara lain ia mengutip syair Abdullah ibnuz Zaba’ri yang menyebutkan,

تَنَكَّلُوا عَنْ بَطْنِ مَكَّةَ إِنَّهَا … كانتْ قَدِيمًا لَا يُرَام حَريمها …

لَمْ تُخلَق الشِّعرَى لَيَالِيَ حُرّمتْ … إِذْ لَا عزيزَ مِنَ الْأَنَامِ يَرُومها …

سَائِلْ أميرَ الْجَيْشِ عَنْهَا مَا رَأى? … فلسوفَ يُنبي الْجَاهِلِينَ عَلَيْمُهَا …

ستونَ أَلْفًا لَمْ يَؤُوبُوا أرَضهم … بَلْ لَمْ يَعِشْ بَعْدَ الِإْيَابِ سَقِيمُهَا …

كانتْ بِهَا عادٌ وجُرْهُم قَبْلَهَمُ … واللهُ مِنْ فَوْقِ الْعِبَادِ يُقيمها

“Mereka takut terhadap lembah Mekah, karena sejak masa dahulu tiada yang berani melanggar kesuciannya, bintang syi’ra masih belum diciptakan di malam-malam ia disucikan.

Karena tiada seorang pun yang mengaku dirinya perkasa, berani mengotori kesuciannya.

Bila ada orang yang bertanya tentang kisah panglima pasukan apa yang telah dialaminya dari tanah suci itu, maka akan diceritakan kepadanya oleh orang yang mengetahuinya.

Enam puluh ribu pasukan tidak pernah kembali ke tempat tinggal mereka, bahkan tidak dapat hidup lama orang yang sakit dari mereka sesudah kepulangannya.

Sebelum mereka terdapat kaum ‘Ad dan Jurhum di dekatnya dan kekuasaan Allah berada di atas hamba-hamba-Nya, Dialah yang menjaga kesuciannya.”

Abu Qais ibnu Aslat Al-Ansari Al-Madani mengatakan dalam bait-bait syairnya yaitu,

وَمِنْ صُنْعه يَوْمَ فِيلِ الحُبُو … شِ، إِذْ كُلُّ مَا بَعَثُوه رَزَمْ …

مَحَاجِنُهُمْ تَحْتَ أَقْرَابِهِ … وَقَدْ شَرَموا أَنْفَهُ فَانْخَرَمْ …

وَقَدْ جَعَلُوا سَوْطَهُ مِغْوَلًا … إِذَا يَمَّمُوه قَفَاه كُليم …

فَسوَّل أَدْبَرَ أَدْرَاجِهِ … وَقَدْ بَاءَ بِالظُّلْمِ مَنْ كَانَ ثمَّ …

فَأَرْسَلَ مِنْ فَوْقِهِمْ حَاصِبًا … يَلُفهُم مثْلَ لَفُ القزُم …

تَحُثُّ عَلَى الصَّبر أحبارُهم … وَقَد ثأجُوا كَثؤاج الغَنَم …

“Dan di antara apa yang diperbuat oleh-Nya di hari tentara bergajah Habsyah telah terbuktikan, karena setiap orang yang dikirimkan oleh mereka dikalahkan.

Tameng-tameng mereka berada di bawah qirbah wadah minum mereka, sedangkan mereka dalam keadaan terhina lagi terluka.

Pada mulanya kekuatan mereka menakutkan, di saat mereka menuju kepadanya dengan penuh keangkuhan.

Tetapi pada akhirnya pemimpin mereka lari tunggang langgang kembali ke tempat asal datangnya, semua orang yang ikut dengannya di tempat itu adalah orang yang aniaya.

Maka dikirimkanlah kepada mereka dari atas mereka hujan batu kerikil, yang menghancurleburkan mereka.

Meskipun para pendeta mereka memerintahkan kepada pasukannya untuk bersabar, tetapi mereka menjerit-jerit bagaikan embikan kambing yang terancam bahaya.”

Abus-Silt ibnu Rabi’ah As-Saqafi mengatakan bahwa telah dinukil dari Umayah ibnu Abus-Silt ibnu Rabi’ah bait-bait syair yang berbunyi,

إِنَّ آيَاتِ رَبِّنا بَاقياتٌ … مَا يُمَاري فيهنَّ إِلَّا الكفورُ …

خُلِقَ الليلُ والنهارُ فَكُلّ … مستبينٌ حسابُه مَقْدُورُ …

ثمَّ يَجْلُو النَّهارَ ربٌ رحيمٌ … بِمَهَاةٍ شُعَاعها منشورُ …

حُبِسَ الفيلُ بالمُغمَّس حَتَّى … صَارَ يَحْبُو، كَأَنَّهُ معقورُ …

لَازِمًا حلقُه الجرانَ كَمَا قُطِّر … مِنْ ظَهْر كَبْكَب مَحدُورُ …

حَوله مِنْ مُلُوك كِندةَ أبطالُ … ملاويثُ فِي الحُرُوب صُقُورُ …

خَلَّفُوه ثُمَّ ابذَعرّوا جَميعًا، … كُلَّهم عَظْمُ سَاقِهِ مَكْسُورُ …

كُلّ دِينٍ يَومَ القِيَامة عندَ الـ … له إِلَّا دِينُ الحَنِيفَة بورُ …

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kekuasaan Tuhan kami yang masih tetap ada dan tiada yang mengingkarinya selain hanya orang yang benar-benar pengingkar kebenaran,

(yaitu) adanya malam dan siang hari, semua orang memahami perhitungannya yang telah ditetapkan dengan jelas.

Kemudian Tuhan Yang Maha Penyayang menjadikan siang hari terang benderang dengan sinar mentarinya yang menyeluruh.

Dialah Yang telah menahan pasukan bergajah di Magmas, hingga gajah itu merangkak seakan-akan seperti tak berdaya, ia hanya diam mendekam sekalipun punggungnya dipukuli bertubi-tubi dengan kerasnya.

Di sekitarnya terdapat raja-raja Kindah yang disegani dan menjadi para pendekar dalam medan perang, semuanya menentang niatnya.

Kemudian mereka semuanya terkejut karena semua pasukan bergajah itu patah dan binasa.

Setiap agama kelak di hari kiamat di hadapan Allah akan ditolak dan sia-sia kecuali agama yang hanif (Islam).”

Dalam pembahasan yang lalu pada tafsir surat Al-Fath telah disebutkan bahwa di hari perjanjian Hudaibiyah ketika Rasulullah Saw. berada di atas lereng yang darinya dapat ditempuh jalan menuju ke tempat orang-orang Quraisy, unta beliau mendekam, lalu mereka menghardiknya, tetapi unta kendaraan beliau Saw. tetap menolak. Maka mereka mengatakan bahwa Qaswa (nama unta milik Nabi Saw.) mogok. Maka Rasulullah Saw. bersabda:

«مَا خَلَأَتِ الْقَصْوَاءُ وَمَا ذَاكَ لَهَا بِخُلُقٍ وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ- ثُمَّ قَالَ- وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي الْيَوْمَ خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا»

Qaswa tidak mogok, karena mogok bukan merupakan pembawaannya, tetapi ia ditahan oleh Tuhan Yang telah menahan pasukan bergajah. Kemudian Rasulullah Saw. melanjutkan sabdanya: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah mereka meminta kepadaku hari ini suatu rencana yang di dalamnya terkandung penghormatan kepada hal-hal yang disucikan oleh Allah melainkan aku akan menyetujuinya.

Setelah itu beliau Saw. menghardik untanya, maka untanya bangkit dan meneruskan perjalannya. Hadis ini termasuk hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid (tunggal).

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda di hari jatuhnya kota Mekah:

«إِنَّ اللَّهَ حَبْسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ، وَإِنَّهُ قَدْ عادت حرمتها اليوم كحرمتها بالأمس ألا فليبلغ الشاهد الغائب»

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.